Learning Model Canvas (LMS)?
Solusi Dalam Menerapkan Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta
Dr. H. Heri Kuswara, M. Kom


Lahirnya Business Model Canvas (BMC) yang ditorehkan Alexander Osterwalder dan Yves Pigneur (2010) dalam bukunya berjudul “Business Model Generation” menjadi pedoman dan panduan bagi jutaan entrepreneur di dunia dalam memulai dan mengembangkan bisnisnya. Framework model bisnis yang begitu sederhana dan mudah difahami ini, menghadirkan sembilan elemen kunci dalam merancang, menganalisis dan meluai dan mengembangkan model bisnis. Jika boleh saya istilahkan Business Model Canvas (BMC) ini sangat Komprehensif holistik dan sistemik. Mengapa saya istilahkan demikian? Karena pendekatannya menyeluruh, terpadu, setiap elemen kunci bukan merupakan bagian yang terpisah, saling terkait membentuk suatu sistem yang utuh, setiap elemen kunci berpengaruh terhadap elemen kunci lainnya.

Sembilan Elemen Kunci BMC yang dimaksud terdiri dari Customer Segments (Segmentasi Pelanggan) yaitu Siapa pelanggan utama yang akan diberi solusi, Value Propositions (Proposisi Nilai) Apa keunggulan dan kelebihan dari solusi yang ditawarkan kepada pelanggan utama kita, Channels (Saluran) melalui media apa kita memberikan layanan yang terbaik kepada pelanggan, Customer Relationships (Hubungan Pelanggan) bagaimana caranya kita dapat menjalin, memelihara dan meningkatkan hubungan baik dengan pelanggan, Revenue Streams (Sumber Pendapatan) darimana saja sumber pendapatan yang kita dapatkan, Key Resources (Sumber Daya Utama) apa saja sumber daya yang wajib disiapkan, Key Activities (Aktivitas Utama) kegiatan apa saja yang harus dijalankan untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan, Key Partnerships (Mitra Utama), siapa saja yang akan menjadi mitra terbaik dari bisnis yang dijalankan, dan Cost Structure (Struktur Biaya), Biaya apa saja yang harus dikeluarkan untuk menjalankan bisnis kita.

Pada dunia pendidikan, khususnya di perguruan tinggi, Business Model Canvas (BMC) menjadi salah satu materi penting yang wajib diberikan kepada mahasiswa, setidaknya terinsert dalam mata kuliah Manajemen Bisnis, Kewirausahaan/Entrepreneurship, Perencanaan Bisnis, Inovasi Bisnis, Pemasaran, strategi bisnis dan mata kuliah lainnya. Andai kita berselancar ria di lautan maya, begitu mudah kita temukan berbagai artikel, tulisan yang membahas tentang Business Model Canvas (BMC). Pada prakteknya, sebagai bagian yang turut berkhidmat pada organisasi islam terbesar di indonesia, diberbagai momentum pelatihan/pendidikan untuk para ustadz/ah atau calon da’i/yah, penulis sangat sering mengadopsi model ini dan memodifikasinya menjadi Dakwah Model Canvas (DMC), tentu disuguhkan dalam perspektif dakwah bukan untuk mengkomersilkan dakwah itu sendiri. Pengalaman penulis sebagai trainer, mereka sangat terbantu dalam mempersiapkan strategi dakwahnya dengan framework ini.

Dewasa ini, pendidikan di negara kita sedang menerapkan paradigma atau pendekatan pembelajaran deep learning (pembelajaran mendalam) dengan tiga elemen kuncinya yaitu meaningful learning (pembelajaran yang bermakna), mindful learning (pembelajaran yang penuh kesadaran/perhatian), dan joyful learning (pembelajaran yang menyenangkan), dan Paradigma Pendidikan/Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang meliputi lima nilai utama, yang dikenal sebagai Panca Cinta: cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa, cinta kepada diri dan sesama, cinta kepada ilmu pengetahuan, cinta kepada lingkungan, dan cinta kepada bangsa dan negeri. Lalu sebuah tanda tanya besar bagi penulis, bagaimana kita (pendidik/guru) dapat menerapkan pendekatan pembelajaran tersebut, apabila tidak memahami betul elemen kunci yang wajib difahamai dan dikuasai agar mampu menghasilkan output dan outcome dari kedua paradigma/pendekatan pembelajaran tersebut. Oleh karenanya, terinspirasi Business Model Canvas (BMC), penulis mencoba menyuguhkan sebuah model agar kedua pendekatan pembelajaran diatas dapat secara optimal diimplementasikan. Model yang dimaksud adalah Learning Model Canvas (LMS) atau dalam bahasa indonesia penulis istilahkan sebagai Pembelajaran Model Kanvas (PMK),
Berangkat dari Business Model Canvas (BMC), Learning Model Canvas (LMS) inipun terdiri dari sembilan elemen kunci yang wajib disiapkan oleh setiap guru sebelum mengimplementasikan pendekatan pembelajaran baik deep learning maupun Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), kesembilan elemen dimaksud diantaranya: Students background (Siapa siswa/peserta didik kita), Value Propositions (Apa Keunggulan/Kelebihan kita), Channels (Media apa saja yang digunakan), Students Relationship (Bagaimana cara Membangun hubungan baik dengan Siswa), Key Activities (Aktifitas apa saja yang dilakukan), Key Resources (Sumber daya apa saja yang disiapkan), Key Partnership (Siapa saja mitra strategis kita dalam menunjang pembelajaran), Cost Structure (biaya apa saja yang dikeluarkan guna menunjang pembelajaran), Goals (Tujuan apa saja yang ingin dicapai).
Dalam kesempatan yang berbahagia ini, penulis akan menjelaskan secara singkat kesembilan elemen kunci Learning Model Canvas (LMS) diatas. Yang pertama adalah Students background (Siapa siswa/peserta didik kita), mengidentifikasi secara spesifik latar belakang siswa merupakan hal terpenting dalam mewujudkan efektifitas dan inklusifitas pembelajaran. Latar belakang yang dimaksud dapat berupa usia, jenis kelamin, keluarga, ekonomi, bahasa, budaya, bakat, minat, pendidikan sebelumnya dan latar belakang lainnya yang dapat mendukung pemahaman kita dalam mengimplementasikan pendekatan pembelajaran baik deep learning ataupun Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).

Elemen yang kedua adalah Value Propositions (Apa Keunggulan/Kelebihan kita). Dalam berbagai kesempatan, penulis selalu berseloroh “Jangan bermimpi menjadi pengajar/pendidik, jika kita tidak punya kelebihan/keunggulan/keunikan dalam mengajar/mendidik”, setiap pendidik tentu punya keunggulan/keunikan masing-masing sesuai dengan potensinya, misalnya teladan dalam sikap dan perilaku, dalam berkomunikasi dan berinteraksi selalu penuh empati, banyak memberikan motivasi dengan testimoni sukses atau kisah-kisah inspiratif, pembelajaran diselingi dengan ice breaking atau games yang edukatif, atau punya ciri khas tersendiri yang membuat siswa merasa terhibur dan senang.

Elemen kunci yang ketiga adalah Channels (Media apa saja yang digunakan). Selain media pembelajaran yang wajib disiapkan, penting bagi pendidik menyiapkan media lainnya seperti media visual (gambar, foto, peta), media audio (radio, rekaman suara), media audio-visual (video, film), media taktil (model, patung), dan media virtual (internet, aplikasi edukasi) maupun media konvensional lainnya yang mendukung pembelajaran. Tentu seluruh media tersebut tidak untuk kita bawa semuanya, namun disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran saat itu. Saran penulis, media digital seperti perangkat lunak visual dan interaktif yang familier digunakan seperti mentimeter, ahaslides, canva, gamma dapat kita praktekkan pada momen-momen tertentu di sela-sela pembelajaran.

Elemen kunci yang keempat adalah Students Relationship (Bagaimana cara Membangun hubungan baik dengan Siswa). Siswa wajib kerasan yaitu rasa senang, nyaman dan betah atas kehadiran kita dimanapun dan kapanpun terlebih dalam suasana pembelajaran, siswapun harus kangen dan kehilangan dikala kita tidak hadir dikelas, ini menunjukan bahwa kita sangat berarti bagi mereka (siswa), oleh karenanya cara membangun hubungan baik dengan siswa dapat dilakukan dengan cara misalnya dengan selalu menegur/menyapa siswa dengan penuh kehangatan, kelembutan, dan kasih sayang, menunjukan rasa empati kepada siswa dengan penuh ketulusan, mengapresiasi dan menghargai setiap pertanyaan, jawaban, pendapat dan hasil pekerjaan siswa, selalu menghadirkan suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan, memberikan dukungan dan motivasi atas bakat dan minat siswa, sekalipun harus memberi sanksi, berikan sanksi yang membuat siswa tersadar dan termotivasi akan hikmah dibalik sanksi yang diberikan.
Elemen kunci yang kelima adalah Key Activities (Aktifitas apa saja yang dilakukan). Aktifitas utama dalam pembelajaran tentu menyampaikan materi pembelajaran sesuai dengan mata pelajaran, aktifitas lainnya yang mendukung suksesnya pembelajaran misalnya kegiatan pembelajaran interaktif menggunakan media online dan offline, Pembelajaran berbasis permainan/games, kegiatan diskusi dalam pembelajaran, Curah pendapat (brainstorming), dan kegiatan lainnya yang menunjang pembelajaran. Elemen kunci yang keenam adalah Key Resources (Sumber daya apa saja yang disiapkan). Aset intelektual yang harus disiapkan tentu SDM Guru/Pengajar (kita) yang cerdas dalam mengelola pembelajaran (Pedagogik), menguasai model, metode dan pendekatan pembelajaran, terampil dalam penggunaan Teknologi Informasi (hardware/Software), dan keterampilan lainnya. Sementara aset fisik yang harus disiapkan seperti komputer/laptop berisi software untuk mendukung pembelajaan, proyektor (LED/LCD), layar, koneksi internet baik kabel/nirkabel, materi pembelajaran baik hard/soft copy, Sound system dan microphone, whiteboard, papan Flipchart dan Flipchart, alat tulis pembelajaran, Pointer Laser/Kliker, kertas, sticky note dll.

Elemen kunci yang ketujuh adalah Key Partnership (Siapa saja mitra strategis kita dalam menunjang pembelajaran). Kunci sukses mengajar ditentukan oleh sejauh mana guru mampu mengelola kelas dengan baik dan menyenangkan, namun demikian dalam meningkatkan kapasitasnya guru wajib bekerjasama dengan pihak lain seperti bekerjasama sama dengan sesama guru untuk sharing and learning, intens berkomunikasi dengan kepala sekolah, berhubungan baik dengan orang tua/wali siswa, bermitra dengan psikolog, sosiolog, ahli IT, Content Creator, dan tentunya wajib tergabung kedalam berbagai organisasi profesi guru. Elemen kunci yang kedelapan adalah Cost Structure (biaya apa saja yang dikeluarkan guna menunjang pembelajaran). Untuk meningkatkan kapasitasnya, Seorang guru tentu wajib berkorban mengeluarkan berbagai biaya seperti biaya mengikuti seminar, biaya pelatihan, biaya pembelian komputer/laptop/sejenisnya, biaya paket data, biaya pembelian perlengkapan dan peralatan pendukung pembelajaran, dan biaya lainnya yang timbul.
Terakhir atau elemen kunci kesembilan adalah Goals (Tujuan apa saja yang ingin dicapai). Apa yang menjadi tujuan dari pembelajaran yang dilakukan?. Jika kita merujuk pada pendekatan pembelajaran deep learning maka bukan sekedar prestasi akademik saja yang kita harapkan namun dengan mempersiapkan framework ini diharapkan siswa mamahami dan memaknai secara mendalam setiap ilmu, pengetahuan dan keterampilan yang didapatkan dan mampu menerapkannya baik dilingkungan sekolah maupun dalam kehidupan nyata dengan penuh kesadaran, tanggungjawab dan rasa aman, nyaman serta menyenangkan. Selain itu, goals dari framework pembelajaran ini selaras dengan tujuan dari Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yaitu mewujudkan generasi cerdas, berkarakter, beriman, berakhlak baik dengan menjunjung nilai-nilai kasih sayang, toleransi, saling menghargai dan menghormati, mempunyai rasa empati terhadap sesama, ituluah sesungguhnya anak yang sholeh/sholehah.

0 Comments